Awan Cumulonimbus, Penyebab Hilangnya AirAsia?
Kapanlagi.com - Hilangnya pesawat
AirAsia QZ 8501 memang menimbulkan kepedihan di keluarga korban. Sudah 24 jam
lebih semenjak pesawat tujuan Surabaya - Singapura itu hilang kontak, dan
sampai sekarang belum ada kejelasan informasi mengenai kondisi para penumpang.
Dalam berbagai berita yang
beredar, hilang kontaknya pesawat tersebut diduga karena kondisi cuaca tidak
baik. Pihak ATC (Air Traffic Control) menerima permintaan pilot Kapten Iriyanto
untuk menaikkan pesawat ke ketinggian 38 ribu kaki karena menghindari awan
Cumulonimbus. Nah, lantas apakah yang dimaksud dengan awan Cumulonimbus?
Menurut kepala BMKG (Badan
Meteorologi Klimatologi dan Geofisika), Andi Eka Satya, jalur yang dilewati QZ
8501 memang terdapat banyak gumpalan awan tebal yang disebut Cumulonimbus. Awan
itu memang lazimnya dihindari oleh pilot karena bentuknya tebal sekali dan
kalau lewat di dalamnya, bisa membuat pesawat dalam keadaan bergoyang hebat
alias turbulensi.
Saat pesawat AirAsia itu hilang
kontak, lokasi awan Cumulonimbus berada di antara Belitung dan Kalimantan.
Bentuk awan sendiri adalah vertikal menjulang yang sangat tinggi mencapai 2.000
- 16.000 meter, padat dan di dalamnya mengandung badai petir serta suhu sangat
dingin, seperti dilansir Merdeka.
Usaha pesawat untuk terbang di
ketinggian lebih tinggi memang masuk akal. Namun seramnya, awan Cumulonimbus
ini rupanya masih bisa ditemukan hingga di atas ketinggian 40 ribu kaki. Jadi
ada dugaan, QZ 8501 berhadapan dengan Cumulonimbus sampai di ketinggian 48 ribu
kaki karena cuaca yang sangat buruk, ketebalan Cumulonimbus bisa mencapai 5-10
kilometer.
Dengan skenario terburuk adalah
AirAsia masuk ke dalam Cumulonimbus, maka kondisi yang muncul bisa lebih
berbahaya. Karena suhu super dingin di awan itu bisa membuat mesin dan sayap
pesawat dipenuhi es. Jika begitu pilot memang harus menyalakan pemicu busi yang
bisa membuat daya tahan pesawat berkurang dan efek terseramnya, pesawat jatuh
karena kurang kecepatan untuk naik.




